Daratan timor di provinsi nusa tenggara timur terdiri dari satuan fisiografi berupa pegunungan yang tersusun berbagai jenis batuan. Fatu yang berarti batu atau gunung secara adat juga mempunyai akar filosofi yang kuat.Namun dari gunung batu ini masalah muncul.Dari sisi sumber daya alam batu tersebut dapat dieksploitasi sebagai sumber pendapatan daerah.Batu marmer diproyeksikan pemerintah daerah dapat meningkatkan pendapatan asli daerah.Namun dari sisi adat penolakan warga secara sporadis muncul.Bahkan konflik horisontal telah terjadi akibat kisruh penambangan marmer.Seperti apakah konflik yang timbul karena eksplorasi tambang marmer ini? Apakah tarik ulur masalah tambang marmer ini, masih akan terus terjadi?Ikuti penulusuran metro realitas di daratan timor. Kasus tambang marmer di kabupaten timor tengah selatan Soe telah berlangsung hampir setahun lalu.Masyarakat adat desa kuanoel menolak rencana pt teja sekawan melakukan penambangan batu marmer di faut lik dan fatu ob di kecamatan fatumnasi agustus 2006 lalu. Ketika itu aleta baun mengawali aksi penolakan eksploitasi marmer di kawasan mollo. Kaum perempuan pun akhirnya yang lebih dominan menuntut dicabutnya ijin tambang. Peristiwa serupa juga terjadi di desa tetangga/ di pegunungan naetapan desa tunua.Yang terakhir pada maret 2006, ketika konflik juga terjadi antara masyarakat dengan pt sumber alam marmer, yang mendapat ijin dari bupati pada maret 2006. Beberapa bulan berlalu.Suasana yang tenang saat ini bukan berarti tidak ada masalah di desa tersebut.Menurut warga di sekitar tambang aktivitas penambangan dalam beberapa hari ini berhenti karena mesin dan ekskavator rusak.tumpukan balok-balok batu marmer teronggok begitu saja.dari mendapatkan bongkahan balok ini dapat dibayangkan seberapa gunung yang dipotong. Rencana penambangan marmer masih menjadi momok bagi warga desa.hal ini dikarenakan hingga saat ini konflik antara masyarakat dan pemda serta pengusaha sebagai investor masih belum selesai. Bagi warga kuanoel dan fatumnasi gunung batu mempunyai makna yang dalam baik dalam filosofi adat maupun untuk kebutuhan religi. Dalam masyarakat adat di kabupaten timor tengah selatan masih terdapat struktur adat yang kuat.Amaf atau tokoh adat mempunyai peran serta otoritas yang kuat dalam menentukan aturan adat. Dalam menjalankan tugasnya amaf dibantu para usif yang berperan sebagai elemen yudikasi.Proses dimulainya penambangan ini pun masuk melalui para amaf serta tetua adat. Sebagai batuan yang secara fisik terlihat mewah pada kenyataannya marmer hanyalah salah satu bahan galian yang masuk golongan c.Ini berarti marmer dapat disamakan sama dengan bahan galian pasir dan batuan kerikil. Menurut undang-undang nomor 11 tahun 1961 pemanfaatan tambang diatur oleh negara untuk kemakmuran rakyat.Pemerintah daerah pun mengeluarkan perda yang memayungi usaha penambangan marmer. Sikap bupati yang masih belum mencabut ijin penambangan membuat warga yang tinggal di kawasan pegunungan resah. Pada perkembangannya penambangan marmer di deretan pegunungan di daerah mollo perlahan menjadi konflik horisontal .Warga yang tinggal di sekitar pegunungan mayoritas menentang eksploitasi marmer. Warga yang vokal dan kritis dalam menolak penambangan mengaku mendapat tekanan dan ancaman.Beberapa warga bahkan mengalami tindak kekerasan.Hal yang sama di rasakan Aleta Ba’un.Aleta yang sering dipanggil mak leta terus berpindah-pindah tempat meninggalkan keluarganya.Hal ini dilakukannya karena tekanan yang dialaminya dan untuk menghindari teror. Pembenaran dibukanya penambangan marmer tentu karena ada analisis mengenai dampak lingkungan atau amdal. Hasil dari amdal inilah yang mengesahkan keluarnya surat ijin penambangan daerah.saat ini meskipun beberapa perusahaan tambang untuk sementara menghentikan produksinya namun para pengusaha tetap mengantongi sip d tersebut. Ijin penambangan marmer bagi sebagian kalangan tidak logis mengingat gunung batu memiliki fungsi hidrologi yang sangat vital sebagai resapan air.Hilangnya gunung batu menyebabkan krisis air bagi warga setempat dan resiko tanah longsor. Tarik ulur penambangan batu marmer menjadi rumit karena masuk ke ranah adat.batu permasalahan di timor tengah selatan sebenarnya juga terjadi di kabupaten lain seperti di timor tengah utara kefamenanu. di daerah niap-niap juga terdapat penambangan batu marmer.Tambang batu di niap-niap ini secara adminstrasi masuk desa teba dan sebagian lokasinya masuk wilayah desa oerinbesi.Kedua desa tersebut merupakan bagian kesatuan adat kekaisaran Biboki PT timor marmer industri mulai beroperasi sejak tahun 2004 lalu di dua desa yang masuk kecamatan biboki selatan.aktivitas penambangan berjalan lancar tanpa ada tekanan atau tuntutan dari warga sekitar. Secara prosedural hasil produksi marmer yang akan dikirim keluar lokasi selalu di periksa baik warga sekitar serta dinas pertambangan. Walaupun di atas kertas sistem yang diterapkan pemerintah terkesan ketat dalam mengontrol aktivitas penambangan hingga pendistribusiannya toh masyarakat lokal tetap pada posisi pihak yang awam.Aksesibilitas mereka terbatas.Daya tawar mereka pun lemah. Apa yang dikhawatirkan dari penambangan gunung marmer adalah konflik antara masyarakat adat atau warga lokal dengan pihak pemerintah serta pengusaha. Permasalahan tanah ulayat atau tanah adat sepertinya belum sepenuhnya selesaiKarakteristik warga lokal terkesan lebih menerima kebijakan atau perubahan yang terjadi di wilayah mereka. Namun ternyata mereka masih menanti janji dari pemerintah daerah dan pengusaha tambang. Kenyataannya kehadiran tambang tersebut mengakibatkan suatu pengorbanan adat yang tidak kecil.Lokasi ritus warga di beberapa titik lokasi di gunung-gunung batu tersebut terpaksa di pindah ke tempat lain. Penambangan batu marmer juga hampir terjadi di atambua.perbukitan lidak adalah kawasan yang meliputi kecamatan kota kecamatan tasbar dan kecamatan kakuluk mesak.Pada agustus 2006 lalu PT sipon multi aktif mengklaim memiliki hak mengeksploitasi marmer di lidak yang terbentang di kawasan seluas 9000 hektar. Namun oleh masyarakat setempat bukit-bukit batu lidak merupakan tempat melaksanakan sembahyang dan upacara adat.khususnya upacara meminta hujan. Melihat fenomena kerusakan lingkungan dan masyarakat yang mengadu pihak keuskupan belu pun tidak tinggal diam.
Deretan perbukitan dan pegunungan batu di daratan timor dari atambua hingga soe merupakan kawasan dimana interaksi dan kebutuhan adat masih sangat kuat.
Kebijakan pemerintah setempat yang membawa jargon meningkatkan taraf hidup warga dan pendapatan daerah dengan mengeksploitasi gunung marmer tampaknya akan melalui jalan panjang dan berliku. Hambatan terbesar adalah resistensi masyarakat yang masih kuat memegang adat dan menggantungkannya di gunung-gunung batu tersebut. Eksploitasi tambang khususnya batu mamer di daratan timor akan selalu berhadapan dengan kepentingan adat.Pemaksaan beroperasinya tambang marmer hanya akan melahirkan konflik sosial berkepanjangan yang beresiko pada kelematan rakyat. fakta lebih mendalam adalah lingkungan dan ekosistem yang terganggu akibat perubahan drastis dari hilangnya wilayah tangkapan air.
Kekarnya gunung-gunung batu yang memayungi daerah-daerah rendah dan mengalirinya dengan air kehidupan tidak dapat dikompensasikan dengan janji dan jargon peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran.
Nara sumber: ALETA BA’UN (ORGANISASI ATAIMAMUS) MGR. ANTON PAIN RATU, SVD (USKUP BELU) VIKTOR MANBAIT (KOORDINATOR LAKMAS) YOSEP LALUS (PEMANGKU ADAT OERINBESI )ANWAR SULAIMAN (GM PT. TMI)LODOVIKUS SILLA (KEPALA DINAS PERTAMBANGAN TTU) DANIEL BANUNAEK (BUPATI SOE) LERY MBOUIK (KOORDINATOR PIAR) YAKOBUS OEMATAN (TETUA ADAT)
Jambi… Sebuah kota dengan tatanan yang indah dan refleksi masyarakat yang dinamis.
Sungai Batanghari yang membelah kota menjadi identitas sekaligus simbol daerah Jambi. Jauh dipelosok hutan Jambi di daerah perbukitan ada kelompok-kelompok suku adat terpencil yang masih sangat tradisional berdiam.Suku anak dalam atau suku rimba.
Begitulah nama suku ini dikenal. Untuk masuk ke dalam komunitas suku rimba harus melalui perantara seseorang. Perantara atau penghubung ini menyandang sebutan Jenang. Peranan Jenang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat rimba.Sebagai agen perubahan sekaligus sebagai kepanjangan lidah Masyarakat rimba.Segala hal yang dilakukan Jenang untuk suku rimba adalah tanpa pamrih apapun. Semata-mata dilakukan sebagai kewajiban adat yang telah berlangsung secara turun temurun.Lima hingga enam kali dalam sebulan Jenang untung mengunjungi empat suku rimba yang menjadi tanggung jawabnya.Perjalanan menuju salah satu suku Rimba di bukit 12 cukup sulit ditempuh.Setelah menyeberang sungai Batanghari dari desa sungai Ruan Perjalanan ke Bukit 12 Kali ini / dilakukan menggunakan transportasi darat.Biasanya Jenang Untung melakukannya dengan berjalan kaki selama sehari semalam.Menurut masyarakat rimba dinamakan bukit 12 karena memiliki 12 undakan atau jenjang untuk sampai ke puncaknya. dan di tempat tersebut banyak terdapat roh nenek moyang mereka dewa-dewa dan hantu-hantu yang bisa memberikan kekuatan.Pertemuan dengan komunitas masyarakat rimba di pedalaman hutan merupakan suatu hal yang langka tanpa kehadiran seorang jenang.Seluruh Suku rimba dipimpin oleh kepala suku masing-masing yang disebut tumenggung.Salah satu suku rimba yang menjadi tanggung jawab jenang Untung adalah Suku Serngam. Saat ini mereka sedang melakukan ritual melangun. Melangun adalah masa berkabung ketika salah satu anggota keluarga suku rimba meninggal. Seluruh anggota suku rimba meninggalkan tempat di mana anggota masyarakatnya meninggal tadi. Perjalanan menuju salah satu suku Rimba di bukit 12 cukup sulit ditempuh.Setelah menyeberang sungai Batanghari dari desa sungai Ruan Perjalanan ke Bukit 12 Kali ini dilakukan menggunakan transportasi darat.Biasanya Jenang Untung melakukannya dengan berjalan kaki selama sehari semalam. Menurut masyarakat rimba dinamakan bukit 12 karena memiliki 12 undakan atau Masyarakat anak dalam atau suku rimba, Sangat tergantung pada hutan sebagai sumber kehidupan mereka.
Saat ini keberadaan masyarakat rimba semakin terdesak dan terpinggirkan akibat ekosistem hutan yang semakin rusak. Hal ini berpengaruh pada ritual melangun.
Tempat melangun Mereka tidak sejauh jaman dulu yang mencapai puluhan kilometer. Keberadaan Jenang sebagai penghubung dengan dunia luar orang terang mempunyai arti yang sangat penting bagi masyararakat rimba. ===SOT Nyenong ; hubungan jenang dan masyarakat rimba === Masyarakat rimba yang masih kuat memegang aturan adat di pedalaman hutan ini merupakan cerminan dari sebuah kearifan lokal yang diterjemahkan dengan memelihara hutan agar tetap lestari. Masyarakat suku rimba atau suku anak dalam tidak semuanya berada di pelosok atau pedalaman hutan.Banyak dari komunitas suku rimba telah tinggal menetap di pinggiran kota.Sentuhan pemerintah melalui tangan petugas lapangan dan jenang telah memberdayakan salah satu suku anak dalam.Seperti halnya kampung Sei Segandi di desa Nyogan ini. Sudah setahun ini mereka hidup menetap. Pola berpindah-pindah telah ditinggalkan.Sebanyak 32 kepala keluarga masyarakat Sei Segandi telah menempati rumah-rumah yang disediakan pemerintah melalui Departemen Sosial. Bangunan rumah di kampung Sei Segandi dibuat seragam. Salah satu bangunan besar difungsikan untuk balai warga.Secara umum kehidupan sosial mereka memang berubah. Tetapi elemen-elemen dasar maupun pranata-pranata sosial masih dipegang dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di sungai di sekitar kampung Sei Segandi masih ada masyarakat Anak Dalam yang tinggal di rumah rakit. Rumah rakit ini mengikuti kondisi air di sungai sehingga sewaktu-waktu mereka dapat berpindah-pindah tempat.Mencari ikan menjadi pekerjaan utama yang mereka lakukan setiap hari.Suku anak dalam di kampung Sei Segandi ini sangat tergantung pada aliran sungai bahar.Memasang jala dan memasang bubung atau perangkap ikan adalah ritual kerja mereka dalam keseharian. Sungai pun mereka fungsikan untuk mandi dan mencuci. Pekerjaan utama kaum pria pada umumnya adalah berotan berdamar mencari madu di pohon sialang dan menyadap getah karet. Memasang jerat atau jebakan masih mereka lakukan. karena berburu tidak lagi menjadi pekerjaan utama membuat jebakan setidaknya merupakan suatu tindakan produktif dan menjadi pekerjaan alternatif di sela-sela waktu mereka.Kaum perempuan Suku Anak Dalam di Sei Segandi tidak lagi seperti kaum Perempuan Suku Anak Dalam yang ada di pedalaman hutan. Mereka tidak lagi menghindar dari orang luar atau orang asing.Arus informasi serta hubungan dengan masyarakat luar telah mengubah cara pandang dan sikap tertutup masyarakat Anak Dalam ini. Kaum perempuan di kampung Sei Segandi sebagian besar membuat tikar dan bahan-bahan lain seperti untuk menampi beras yang terbuat dari daun nyiru. Pagi itu masyarakat kampung Sei Segandi tengah sibuk melakukan persiapan.
Malam nanti mereka akan mengadakan upacara penyembuhan tradisional.
Ritual penyembuhan ini dikenal dengan nama Besalih.Bagi masyarakat suku anak dalam upacara besalih masih mereka percayai. Walaupun balai pengobatan atau layanan medis dapat dijangkau dan dituju ritual besalih masih tetap dilakukan.Kepercayaan yang berasal dari retasan adat yang masih kuat menjadi kodifikasi mereka, untuk tetap menerapkan menjalani prosesi purba ini.Sesaji-sesajian dipersiapkan. Properti utama dari besalih berupa rumah-rumahan atau bale mulai dibuat. Bale ini di buat dari kayu klumi atau asam kayu.Bale ini menjadi media perantara antara dukun dan si sakit. Jumlah bale-bale dibuat berdasarkan tingkat sakit orang yang akan diobati. Apabila sakit keras bale-bale yang dibuat bisa mencapai 8 buah. Bale yang digantung ini disebut bale pengasun dan bale bertajuk kembang. Temaram bulan menerangi malam ini.Suasana sakral mulai memenuhi atmosfer.Kubung sang tumenggung menjadi dukun besalih malam ini.Lilin dimasukkan di bale bertajuk kembang bersama dengan beras yang digoreng atau disebut bertih. Dalam prosesi besalih sang dukun harus ditemani pendampingnya yaitu sang isteri. Pendamping menjadi mediator dukun untuk dapat berkomunikasi ketika sang dukun mengalami trance.Kembang pinang yang digunakan pengiring dukun ini diartikan sebagai materi pengusir jin atau roh jahat yang masuk ke diri si sakit.Rekmi si sakit di dudukkan di bale penghadapan dan kemudian di dudukkan di bawah bale bertajuk kembang. Ritual Besalih ini dilakukan berulang-ulang secara repetitif.Bahkan dilaksanakan hingga semalam suntuk.Sebuah kidung sakral yang terlantun dari suku anak dalam.Refleksi dari adat dan keberagaman budaya yang ada di pedalaman Jambi, adalah khasanah yang dimiliki nusantara.wajah ini adalah wajah saudara kita juga. Budaya mereka adalah budaya kita juga. .. Apakah kita peduli?
Kondisi tanggap darurat tiga bulan pasca bencana yang telah menghabiskan dana empat ratus milyar belum memperlihatkan kemajuan secara fisik terutama dalam proses pembangunan hunian sementara.Saat ini, tepat setahun bencana gempa dan tsunami melanda Naggroe Aceh Darussalam.Pembangunan perumahan adalah salah satu tolak ukur terpenting untuk menilai kemajuan usaha rehabilitasi dan rekonstruksi.PBB bahkan menilai bahwa proses rekonstruksi dan rehabilitasi di Naggroe Aceh Darussalam pasca tsunami berjalan lamban.Hingga pertengahan tahun 2005 barak bagi korban tsunami yang terbangun sebanyak 1658 unit.Ini berarti sebagian besar pengungsi korban tsunami yang berjumlah kurang lebih 509.000 jiwa tidak tertampung di hunian sementara tersebut.Rumah yang dibangun dari sumbangan berupa hunian sementara banyak yang tidak tepat sasaran.Misalnya rumah bantuan dari pemda sulawesi selatan ini.Para calon penghuni pegawai pemda pun enggan tinggal di rupacana ini.Memang banyak aspek yang melatarbelakangi tidak tepatnya sasaran dan masih carut marutnya masalah perumahan ini.Rumah permanen sebagai tempat tinggal korban tsunami membutuhkan lebih dari seratus sembilan puluh puluh ribu unit rumah, hingga saat ini belum juga jadi seperempatnya.Bahkan target terbangunnya tiga puluh ribu unit rumah hingga akhir tahun 2005 oleh badan rehabilitasi dan rekonstruksi atau BRR tampaknya mustahil direalisasikan. Dinas perkotaan dan pemukiman Propinsi Naggroe Aceh Darussalam beralasan kendala teknis adalah sebab utama terhambatnya proses rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan bagi korban tsunami. relokasi titik pembangunan rumah huntara atau pun rumah permanen juga tidak partisipatif.Di beberapa tempat para pengungsi enggan menempati hunian relokasi karena jauh dari tempat mencari nafkah.Bahkan pengungsi yang telah secara simbolis menerima kunci saat penyerahan rumah permanen ternyata ditarik kembali tanpa tahu kapan bisa menempati rumah baru tersebut.Program pembangunan rumah permanen hingga akhir tahun 2005 adalah PR utama bagi badan yang memegang utama kendali dari rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh khususnya.Enam puluh tujuh ribu lebih orang masih tinggal tenda-tenda dan lebih dari lima puluh ribu orang tinggal di barak. Kuntoro Mangkusubroto (Direktur BRR):“saya kira baik, percepatannya luar biasa tingginya. dengan menggunakan ukuran apa …sekarang yang gampang sekali kinerja dikaitkan dengan rumah. sudah terbangun 16.200 rumah sedangkan 16 ribu lagi sedang dibangun…jadi walaupun kecepatan kita tinggi sekali …saya kira itulah tantangan kita. tapi membangun rumah tidak satu dua hari selesai…”“sebab kalau kita bicara mengenai anggaran….dan terusterang saja, untuk membangun rumah sebagian besar dibantu NGO luar. jadi kita berterimakasih sekali dengan mereka…” Sebagai badan yang memainkan peran aktif dalam memimpin para donor dan mengalokasikan dana yang diterima BRR masih terkesan lamban.Kontrol dan koordinasi dengan ngo asing maupun lokal tidak terjadi dengan baik.dari masalah pungutan pada korban tsunami untuk mengganti harga tanah hingga standarisasi rumah yang berbeda dari para donor menjadi masalah yang cukup krusial.Penyediaan rumah permanen pun masih sangat kurang dibanding kebutuhan warga korban tsunami.Kekecawaan dari para warga pengungsi korban tsunami rupanya semakin menumpuk.Janji demi janji dari pihak NGO dan pemerintah keluar masuk seakan seperti angin lalu, tertelan begitu saja. Setahun tanpa merasakan perubahan yang signifikan mendorong para guru dan perwakilan-perwakilan dari para pengungsi/ mengadu ke pihak-pihak terkait.Pada prinsipnya rekonstruksi dan rehabilitasi akibat bencana tsunami telah mengalokasikan anggaran dana sebesar 3,96 trilyun rupiah. Dana tersebut adalah dana yang dianggarkan hingga akhir tahun 2005. Tetapi dana sebesar itu bukan seluruhnya difungsikan untuk pembangunan rumah.Pos terbesar dari penggunaan seluruh dana tersebut bahkan dialokasikan untuk sub bidang keamanan dan pertahanan.Dana untuk dua sub bidang ini sebesar 10,27% dari seluruh dana 3,9 trilyun.Urgensi perumahan masih dikalahkan pada kebutuhan akan program operasi intelijen hingga pengadaan senjata baru.Bahkan sub bidang perempuan dan anak hanya mendapat porsi 0,82%.
kinerja brr saat ini semakin menjadi pertanyaan besar.Dengan berbagai fasilitas tentu hasil output produk mereka tidak hanya berupa buku nominal angka-angka dan informasi birokratif. Akhiruddin Mahjuddin: “kalau kita lihat perbandingan gaji yang diterima brr dalam hal kepala dibandingkan dengan lembaga tinggi negara lainnya seperti presiden, gaji kepala brr lebih tinggi dari presiden. …. Kuntoro Mangkusubroto“kalau gaji menteri lebih kecil, ya itu salah mereka sendiri…” Nara sumber :
Ruslan Abdul Gani (wakil kadin perkotaan dan permukiman)
Kuntoro Mangkusubroto (direktur BRR)
Akhiruddin Mahjuddin: Zulfitri Darwis (warga pengungsi Cot Madi)Jukri Yahya (koordinator Punge Jurong)
Marwansyah (koordinator Barak Cot Kilat)
Kondisi tanggap darurat tiga bulan pasca bencana yang telah menghabiskan dana empat ratus milyar belum memperlihatkan kemajuan secara fisik terutama dalam proses pembangunan hunian sementara.
Saat ini, tepat setahun bencana gempa dan tsunami melanda Naggroe Aceh Darussalam.
Pembangunan perumahan adalah salah satu tolak ukur terpenting untuk menilai kemajuan usaha rehabilitasi dan rekonstruksi.
PBB bahkan menilai bahwa proses rekonstruksi dan rehabilitasi di Naggroe Aceh Darussalam pasca tsunami berjalan lamban.
Hingga pertengahan tahun 2005 barak bagi korban tsunami yang terbangun sebanyak 1658 unit.
Ini berarti sebagian besar pengungsi korban tsunami yang berjumlah kurang lebih 509.000 jiwa tidak tertampung di hunian sementara tersebut.
Rumah yang dibangun dari sumbangan berupa hunian sementara banyak yang tidak tepat sasaran.
Misalnya rumah bantuan dari pemda sulawesi selatan ini.
Para calon penghuni pegawai pemda pun enggan tinggal di rupacana ini.
Memang banyak aspek yang melatarbelakangi tidak tepatnya sasaran dan masih carut marutnya masalah perumahan ini.
Rumah permanen sebagai tempat tinggal korban tsunami membutuhkan lebih dari seratus sembilan puluh puluh ribu unit rumah, hingga saat ini belum juga jadi seperempatnya.
Bahkan target terbangunnya tiga puluh ribu unit rumah hingga akhir tahun 2005 oleh badan rehabilitasi dan rekonstruksi atau BRR tampaknya mustahil direalisasikan. Dinas perkotaan dan pemukiman Propinsi Naggroe Aceh Darussalam beralasan kendala teknis adalah sebab utama terhambatnya proses rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan bagi korban tsunami.
relokasi titik pembangunan rumah huntara atau pun rumah permanen juga tidak partisipatif.
Di beberapa tempat para pengungsi enggan menempati hunian relokasi karena jauh dari tempat mencari nafkah.
Bahkan pengungsi yang telah secara simbolis menerima kunci saat penyerahan rumah permanen ternyata ditarik kembali tanpa tahu kapan bisa menempati rumah baru tersebut.
Program pembangunan rumah permanen hingga akhir tahun 2005 adalah PR utama bagi badan yang memegang utama kendali dari rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh khususnya.
Enam puluh tujuh ribu lebih orang masih tinggal tenda-tenda dan lebih dari lima puluh ribu orang tinggal di barak.
Kuntoro Mangkusubroto (Direktur BRR):
“saya kira baik, percepatannya luar biasa tingginya. dengan menggunakan ukuran apa …sekarang yang gampang sekali kinerja dikaitkan dengan rumah. sudah terbangun 16.200 rumah sedangkan 16 ribu lagi sedang dibangun…jadi walaupun kecepatan kita tinggi sekali …saya kira itulah tantangan kita. tapi membangun rumah tidak satu dua hari selesai…”
“sebab kalau kita bicara mengenai anggaran….dan terusterang saja, untuk membangun rumah sebagian besar dibantu NGO luar. jadi kita berterimakasih sekali dengan mereka…”
Sebagai badan yang memainkan peran aktif dalam memimpin para donor dan mengalokasikan dana yang diterima BRR masih terkesan lamban.
Kontrol dan koordinasi dengan ngo asing maupun lokal tidak terjadi dengan baik.
dari masalah pungutan pada korban tsunami untuk mengganti harga tanah hingga standarisasi rumah yang berbeda dari para donor menjadi masalah yang cukup krusial.
Penyediaan rumah permanen pun masih sangat kurang dibanding kebutuhan warga korban tsunami.
Kekecawaan dari para warga pengungsi korban tsunami rupanya semakin menumpuk.
Janji demi janji dari pihak NGO dan pemerintah keluar masuk seakan seperti angin lalu, tertelan begitu saja. Setahun tanpa merasakan perubahan yang signifikan mendorong para guru dan perwakilan-perwakilan dari para pengungsi/ mengadu ke pihak-pihak terkait.
Pada prinsipnya rekonstruksi dan rehabilitasi akibat bencana tsunami telah mengalokasikan anggaran dana sebesar 3,96 trilyun rupiah. Dana tersebut adalah dana yang dianggarkan hingga akhir tahun 2005. Tetapi dana sebesar itu bukan seluruhnya difungsikan untuk pembangunan rumah.
Pos terbesar dari penggunaan seluruh dana tersebut bahkan dialokasikan untuk sub bidang keamanan dan pertahanan.
Dana untuk dua sub bidang ini sebesar 10,27% dari seluruh dana 3,9 trilyun.
Urgensi perumahan masih dikalahkan pada kebutuhan akan program operasi intelijen hingga pengadaan senjata baru.
Bahkan sub bidang perempuan dan anak hanya mendapat porsi 0,82%.
kinerja brr saat ini semakin menjadi pertanyaan besar.
Dengan berbagai fasilitas tentu hasil output produk mereka tidak hanya berupa buku nominal angka-angka dan informasi birokratif.
Akhiruddin Mahjuddin:
“kalau kita lihat perbandingan gaji yang diterima brr dalam hal kepala dibandingkan dengan lembaga tinggi negara lainnya seperti presiden, gaji kepala brr lebih tinggi dari presiden. ….
Kuntoro Mangkusubroto
“kalau gaji menteri lebih kecil, ya itu salah mereka sendiri…”
Nara sumber :
Ruslan Abdul Gani (wakil kadin perkotaan dan permukiman)
Kuntoro Mangkusubroto (direktur BRR)
Akhiruddin Mahjuddin (LSM)
Zulfitri Darwis (warga pengungsi Cot Madi)
Jukri Yahya (koordinator Punge Jurong)
Marwansyah (koordinator Barak Cot Kilat)
Tari- tari sambutan telah manjadi tradisi di hampir semua suku di tanah papua.Tari-tarian di tanah papua mempunyai gerakan yang khas.Repetitif, …sederhana, tetapi atraktif//Hari itu masyarakat desa miyoko membawakan tari ikan. Bentuk sambutan khas selanjutnya adalah menerima makanan khas desa setempat.Makanan khas tersebut adalah ulat sagu yang dibakar.Dengan memakan ulat sagu yang ditawarkan warga dapat dimaknai bahwa kehadiran kita diterima. Makanan khas tersebut secara tidak langsung menjadikan media pengikat persahabatan dan persaudaraan antara tamu dan masyarakat lokal. Desa Miyoko di lingkup wilayah komoro, dikenal dengan ukiran-ukiran kayunya. Kaum laki-laki sebagian besar menjadi pengukir. Berbagai bentuk ukiran lahir dari tangan-tangan terampil para pengukir. Demikian pula dengan tema dan karakter ukiran. Tema ukiran yang sering menjadi inspirasi para pengukir adalah binatang. Buaya, ular, burung dan ikan adalah jenis binatang yang sering dijelmakan dalam patung maupun ukiran.Beberapa jenis binatang bagi suku-suku di papua dimaknai sebagai bagian dari unsur dan rantai kehidupan mereka. Sebagai kesatuan kosmik, yang telah melebur dan diwariskan nenek moyang.Masyarakat Suku Komoro sebagian besar mendiami wilayah kehidupan disebut dengan kapirikame. Tiga ekosistem tersebut yaitu sungai, laut dan daratan.Di saat-saat tertentu, masyarakat suku komoro berpindah tempat tinggal atau lingkungan hidup mereka sesuai kebutuhan.Membuka ladang baru seperti yang dilakukan pak ruben, ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan selain mencari ikan.Tanaman yang ditanam pada umumnya adalah petatas atau ketela dan jagung.Di waktu tertentu, masyarakat komoro khususnya Desa Pigapu, mencari tambelo atau ko dalam bahasa Pigapu. Tambelo hidup di pohon bakau yang telah rubuh.Tambelo dipercaya masyarakat dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Bagi sebagian besar pencari ikan, mencari tambelo merupakan ritual wajib sebelum melaut. Sebagian masyarakat lainnya mencari sagu.Proses mencari sagu ini cukup unik. Biasanya sebuah keluarga atau berkelompok, masuk ke dalam hutan untuk mendapatkan pohon sagu yang siap di tebang.Proses memangkur hingga mendapatkan sagu memakan waktu yang cukup lama.Aktifitas pagi itu cukup banyak.Menjelang ritus tari ular masyarakat pigapu mulai mempersiapkan diri. Yohanes, kepala suku masyarakat pigapu berangkat ke mapurujaya.
Tempat ini dikenal dengan sebutan tempat sejarah. Di tempat sejarah, yohanes melkukan komunikasi dengan leluhur masyarakt pigapu yaitu mapurupuau.
Tari ular yang sakral ini adalah representasi sejarah terjadinya desa pigapu dan desa lain sepanjang sungai wania.Legenda mapurupuau yang sangat diyakini masyarakat pigapu berlatar sejarah ketika keberadaan sihir, roh dan ikatan anismisme yang masih tinggi.Di hutan tidak jauh dari desa pigapu beberapa orang yang dipimpin Liborius, mencari kayu untuk dibuat patung ular.Setelah memilih kayu pak liborius meminta ijin kepada penunggu pohon.Komunikasi ini wajib dilakukan agar selama proses pembuatan patung berjalan lancar dan tidak berpengaruh buruk pada warga.Dalam ritual ini, Pak Liborius meletakkan sesaji berupa tembakau yang bungkus daun. Dalam ritus tari ular hanya pak liborius yang boleh membuat patung ular. Dari mencari kayu hingga membuat kepala ular hanya keturunan mapurupuau yang diperkenankan melakukannya.Beberapa orang lainnya hanya membantu pekerjaan pak Liborius.Di bangunan yang di sebut rumah besar pembuatan patung ular mulai dikerjakan.Pak Liborius terfokus pada pembuatan kepala patung ular. Beberapa orang yang lain membuat badan ular. Pembuatan akhir patung ular hanya bisa dilakukan di tempat tertutup.Tidak bisa dikerjakan dihadapan orang lain kecuali keluarga kandung liborius.Anak pak liborius pun diajak untuk ikut dalam pembuatan patung ular.Pada akhirnya pembuatan patung ular ini akan diwariskan pada keturunan selanjutnya.Khusus pembuatan mata ular hanya dilakukan liborius diri.menurut keyakinan masyarakat komoro pembuatan akhir yang sangat sakral.Mata dianggap sebagai sumber kehidupan. Ketika mata telah dipasang ke patung kepala ular maka ular tersebut telah mempunyai roh.Patung ular yang telah mempunyai roh / bisa melihat orang-orang yang ada di sekitarnya.Karena itu mata patung ular ditutup selama tari ular belum dilakukan.Sesaat menjelang ritus tari ular dilaksanakan barulah mata patung ular dibuka.masyarakat pigapu tidak berani melanggar keyakinan tarian tersebut karena mereka percaya akan mendatangkan sakit bagi pembuat patung dan keluarganya.Menjelang sore, masyarakat pigapu mempersiapkan diri / untuk memulai ritus tari ular.Dandanan khas suku komoro mulai dikenakan.Hiasan kepala dari bulu cendrawasih atau kasuri dan daun kelapa. Rok dibuat dari pucuk rumbia dan hiasan dari pucuk daun pohon sagu. Ritus tari ular dimulai ..Masyrakat mulai menari mengiringi pukulan tifa.Pak Liborius keluar bersama beberapa orang dengan membawa patung ular.Tarian ular melambangkan keberadaan ular sebagai bagian utama dari sejarah mapurupuau. Beberapa perempuan menangis karena larut dalam sakralnya tarian ini.Gambaran kehidupan tete atau leluhur mereka dahulu tergambar dan menjelma dalam tarian ular ini.Tarian ular diakhiri dengan memasukkan patung ular kembali ke dalam rumah besar.Mata patung ular kembali ditutup untuk kemudian dikubur agar tidak mendatangkan bencana. Nara Sumber:Kal Muler Benediktus Makanaipetu