Provinsi bengkulu terletak di bagian barat selatan pulau Sumatera.Provinsi yang mempunyai luas wilayah hampir 20 ribu kilmeter persegi ini mempunyai garis pantai sepanjang 433 kilometer. Bengkulu dikenal dengan kesenian tradisional tabot, yang selanjutnya menjadi ciri khas budaya Kota Bengkulu.Berbagai etnis tradisi telah lama mendiami bumi rafflesia ini seperti rejang Lombak, Pasemah Melayu Enggano, Kaur serta Serawai.Masing-masing etnis memiliki seni tradisi yang sebagian masih eksis dan produktif namun beberapa jenis kesenian yang lain terancam punah.Di Kabupaten Seluma, 70 kilometer dari Kota Bengkulu, etnis Serawai mendiami daerah sepanjang pesisir pantai bengkulu.Masyarakat di desa Masmambang, kecamatan Talo, masuk dalam etnis serawai.Salah satu kesenian tradisional di desa Masmambang adalah rejung.
Beberapa tahun terakhir, seni rejung semakin jarang dibawakan.
Hanya tinggal generasi tua yang masih menguasai seni yang berusia tua ini.Salah satunya adalah Zubirman. Zubirman dan beberapa warga masmambang terus berusaha melestarikan seni tradisi yang telah mereka warisi.zubirman adalah seorang penjaga sebuah sekolah dasar di masmambang//Bertahun-tahun ia setia melakukan pekerjaan, yang baginya adalah sebuah amanah.Di lingkungan sosial, zubirman juga sebagai salah satu anggota lembaga adat.Kegelisahaan Zubirman dan para penggiat seni dan budaya lokal, adalah semakin ditinggalkannya seni merejung khususnya di kalangan generasi muda.Zubirman pun membuat sanggar untuk mewadahi generasi muda berlatih rejung.Tujuan utamanya adalah mewariskan seni tradisional ini kepada generasi muda di bawahnya sebagai penerus.Zubirman seperti halnya warga masmambang lainnya yang corak kehidupannya agraris mengisi waktu luang dengan mengolah sepetak sawah miliknya.Dalam prakteknya, rejung mempunyai tata cara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan penghormatan.Inilah yang dilakukan Zubirman dan para penggiat rejung lainnya. Mereka tetap mempertahankan tata cara sesuai tradisi.Ketika akan mengadakan rejung pihak pengundang akan mengirimkan pinang sirih kepada tetua adat dan kepala desa beserta aparatur di bawahnya. Ritus ini mempunyai makna sebagai penghormatan sekaligus undangan pada warga di luar desa. Pentas rejung malam nanti diatur menurut tata cara sesuai adat. Ini dilakukan zubirman agar para penari dan perejung siap untuk pentas di tingkat yang lebih tinggi. Salah satu perejung perempuan yang diundang adalah Muhibatu Saiyah atau dipanggil Muhar.Keseharian Muhar diisi dengan bekerja menganyam barang-barang dari bambu dan rotan. Warga yang fasih melantunkan rejung tinggal sedikit. Muhar termasuk di antaranya.Seperti halnya Zubirman harapan Muhar, agar generasi muda bisa menguasai rejung sangat tinggi.Bagi Muhar, rejung bukan sekedar budaya dari leluhur, tetapi juga meretaskan kenangan tersendiri. Dari sisi semangat dan ditinjau dari sejarahnya rejung lazimnya dilakukan kalangan muda. Karena belum ada kalangan muda yang bisa merejung maka Zubirman. Muhar, para penari serta perejung generasi tua lah yang mebawakan tari adat dan rejung agar dapat dicontoh kalangan muda.Salah satu remaja anggota sanggar yang dibuat Zubirman dan para tetua adat adalah Ine Cintya. Baginya, merejung mempunyai sisi-sisi yang menarik. Persiapan mulai disiapkan untuk malam nanti. Zubirman dan para tetua sangat bangga dengan seni tradisi rejung.Apalagi ketika tahun lalu mereka memenangkan festival seni rakyat di provinsi Bengkulu.Pementasan tari adat dalam etnis serawai umumnya dilaksanakan untuk memeriahkan upacara pernikahan.Sebagai seni sastra lisan, rejung berisikan ungkapan rasa cinta, cemburu, dan ungkapan lain yang berkaitan dengan hubungan cinta kaum muda-mudi.Inilah yang menarik dari pentas rejung.Sebelum pementasan tari adat, tetua adat telah membentuk kepanitiaan yang akan bertanggung jawab penuh pada pelaksaanaan acara tersebut.Mereka yang dipilih tentu yang memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai adat istiadat yang berlaku di Desa Masmambang. Pementasan tari adat lazimnya dilakukan malam hari. Sebagai pembukaan tari adat ketua panitia terleih dulu meminta ijin kepada kepala desa dan ketua adat agar mereka mengetahui dan mengawasi jalannya pelaksanaan acara tersebut.Syarat dari kaum muda-mudi yang menari berpasangan, yaitu tidak boleh yang masih sedesa dan masih memiliki talian darah.Tarian adat dimulai.Gerak repetitif tarian adat ini, mengikuti tabuhan redap dan pukulan kulintang.Kedua jenis alat musik tersebut mutlak ada untuk mementaskan tari adat.Setelah gerakan kedua para perejung yang mewakili para penari melantunkan ungkapan-ungkapan.Perejung dari pihak laki-laki mengawali lontarkan untuk menyampaikan pesan kepada pihak penari perempuan.Setelah mendengar rejung wakil penari laki-laki wakil perempuan memikirkan Jawaban rejung tersebut lalu membalas rejung tersebut. Rejung ini mengisi waktu senggang dalam tarian adat. Ungkapan-ungkapan dilontarkan secara eksplisit dan dibawakan dengan sopan. Walaupun itu sebuah sindiran.Gerakan ketiga tarian adat kembali di bawakan. Tari adat diakhir dengan tari kipas.Demikian seterusnya tarian adat yang diselingi rejung tersebut dibawakan yang bisa berlangsung semalam suntuk, hingga menjelang subuh. Namun kali ini kepala desa menghentikan tarian sepasang muda-mudi.Ternyata pasangan tari tersebut masih ada pertalian darah. Begitulah rejung mengisi lembar-lembar seni tradisi di provinsi Bengkulu. Rejung yang di fungsikan sebagai sarana hiburan dan alat komunikasi menjadi media yang santun dengan penghayatan yang dalam.
Sebuah refleksi kearifan yang tercermin dari bahasa dan lantunan nada yang telah berusia tua.