Caci Untuk Sang Putri

Posted: 28/02/2008 in Jurnal

Presehan adalah pertarungan satu lawan satu. Sebuah drama pertarungan untuk memperebutkan sebuah hadiah.Seni beladiri khas lombok yang telah mentradisi. Para petarung atau pepadu peresehan bertarung membawa nama desa atau kecamatan.Pertarungan kedua pihak dipimpin seorang juri dua wasit pinggir dan dua penunjuk pepadu atau pekembar.Wasit pinggir bertugas menjaga pertarungan agar tetap di dalam arena dan melerai kedua pepadu.Pekembar adalah pihak yang menentukan pepadu yang seimbang dengan lawannya. Ada proses saling membandingkan antara para pepadu. Para pekembar memberi tanda setuju dengan memukulkan penyalin ke ke ende.Puluhan tahun lalu murti menjadi juri peresehan. Menjadi juri bukan begitu saja didapat. Sebelumnya lalu murti pun menjadi petarung.Menjadi juri adalah karena garis keturunan atau diwariskan secara turun temurun.Sebuah tameng atau ende yang terbuat dari kulit sapi dan rotan atau penyalin yang dililiti benang kasur menjadi senjata para petarung.Menjelang ritual bau nyale peresehan menjadi acara wajib selama tiga hari berturut-turut. Peresehan menjadi tontonan yang paling menarik bagi masyarakat. Di ajang peresehan penonton seakan memiliki jagoan masing-masing. Sorakan penonton semakin meningkatkan agresifitas petarung.Peresehan semakin lengkap dengan kehadiran para dukun atau sentoak.Kehadiran dukun semakin menambah kekuatan para petarung.Beberapa metode dilakukan dukun pada para petarungnya. Memasukkan jimat ke kain yang melilit di perut atau yang disebut bengkung.Dukun juga membisikkan doa-doa ke ikat kepala atau odeng atau sapuk yang dikenakan para petarung.Peresehan menjadi jembatan komunikasi antar satu desa dan desa lain dengan tetap menjunjung sportifitas.Dalam praktek kekinian hadiah bukan menjadi motivasi utama para petarung. Keinginan mencoba keberanian mengukur batas diri hingga pertaruhan harga diri.Lombok merupakan tempat yang sangat indah.Suasana selepas fajar menjadi pemandangan yang menakjubkan.Pantai-pantai di lombok barat menjadi tujuan masyarakat untuk bau nyale atau mencari cacing.Ritual bau nyale dilaksanakan masyarakat di pantai tanjung ‘an, Seger, Kali Antan dan Kuta.Selama tiga hari, dini hari hingga pagi hari, masyarakat mencari tanda-tanda akan datangnya nyale tunggak atau nyale awal. Proses mencari ini disebut penyamu.Tradisi bau nyale berawal dari epos putri mandalika.Dalam perspektif kontemporer epos mandalika juga mengandung sisi negatif. Mandalike dalam bahasa sasak, mempunyai arti “rusak”. Putri Mandalika dapat diartikan putri yang merusak dirinya sendiri, dengan menceburkan diri ke laut. Pagi itu masyarakat telah mendapat nyale yang menandakan esok hari adalah saat nyale tunggak.Nyale ada beberapa warna.Nyale berwarna hijau dan coklat dipercaya masyarakat sebagai nyale yang asli.Malam puncak menjelang ritual bau nyale, festival rakyat pun makin marak.Gandrung, joged, 2 macam kesenian yang mirip jangger, menghangatkan suasana malam. Para penonton ikut berjoget bersama para penari.Tradisi saweran pun menjadi hal yang wajib bagi para penonton.Di pantai Seger pesta rakyat menuju puncak. Betandak atau seni berbalas pantun dipentaskan.Betandak telah mendarah daging bagi masyarakat sasak. Dalam kehidupan sehari-hari pun mereka betandak. Baik ketika sedang sakit atau senang hati. Betandak dahulu digunakan sebagai media pertemuan antara dua keluarga untuk menyampaikan maksud keluarga laki-laki ke pihak perempuan.Dalam betandak hasil bumi dan buah-buahan adalah lambang barang bukti dari pihak laki-laki pada pihak perempuan. Seperti halnya pantun/dalam betandak pun ada lontaran yang diucapkan dalam sindiran dan kadang bernada sarkasme.Seni budaya masyarakat sasak lainnya, adalah pepaosan atau seni membaca lontar.Epos yang sering dibacakan dalam pepaosan adalah epos tragedi mandalika.Pukul 4 dini hari masyarakat mulai masuk ke pantai untuk mengambil nyale.ritual ini disebut peneter.Masyarakat percaya dengan mengeluarkan makian atau kata-kata kotor nyale akan segera datang dan dalam jumlah banyak.Dini hari itu di hampir semua pantai selatan nusa tenggara barat peneter mulai dilakukan.Ribuan masyarakat di pantai seger masyarakat mulai masuk ke pantai untuk mencari nyale.Beberapa orang menggunakan perahu agar lebih masuk ke laut sehingga mendapatkan nyale lebih banyak.Teriakan orang-orang memanggil nyale memenuhi atmosfer pantai.Pagi itu semua orang mendapat nyale, dengan jumlah berbeda-beda.Nyale dipercaya masyarakat sasak sebagai obat yang berkhasiat.Pada jaman dulu nyale dipercaya dapat menyuburkan tanaman di sawah apabila ditaburkan.Dari laut masyarakat segera mengolah nyale menjadi makanan. Tradisi masyarakat sasak mengolah nyale hampir sama dibeberapa tempat.Nyale dimasukkan ke dalam limpit yang dibentuk dari daun kelapa/ kemudian dibakar. Setelah matang nyale pun di masak.Legenda melahirkan epos yang meretas dalam budaya.Bau nyale merupakan aktifitas ritual mayarakat sasak. Baik atau buruk legenda yang melahirkan epos mandalika, seyogyanya dipahami sebagai warna dalam budaya lokal. Keyakinan masyarakat sebagai sebuah pemahaman lokal pada ritual bau nyale bukan sebagai kemunduran pengetahuan.Pemahaman masyarakat sasak harus dimaknai sebagai sebuah ikatan biologis manusia dan alam dalam kesatuan kosmik.Perlu kiranya menjaga tradisi dan keragaman budaya di daratan lombok. Ragam Seni yang bersenandung magis / ritual-ritual langka sebagai sendi budaya.Dan terutama tradisi serta budaya sebagai perekat masyarakat sasak yang tetap mencari wujudnya/ sebagai warisan leluhur. Narasumber:

Agus Marta Hariadi

Nirwan ArsukaLalu Murti ODENG/SAPUK : IKAT KEPALABENGKUNG : IKAT BADAN/SABUK (KALO PUCUKNYA TIDAK TURUN )TAMPIK : KAIN YG KE BAWAHENDE : PERISAIPENYALIN : ROTAN LEANG : BAJU ADATSONGKET : KAIN SARUNG

periscope

Posted: 13/02/2008 in Foto

logo periscope

hari ulang tahun kongco  atau dewa penunggu kelenteng menjadi ritual sakral yang dipadati umat dan warga. hari ulang tahun atau she jit ini memperingati hari lahir kongco co su kong kali ini berbeda dengan tahun–tahun sebelumnya. Suasana meriah sekaligus sakral memenuhi atmosfer di kelenteng. Ritual she jit diawali dengan mengganti jubah patung dewa co su kong. Tidak seperti di kelenteng lain kongco di tanjung kait hanya terdapat satu kongco. Kongco co su kong menjadi satu-satunya dewa yang dipuja umat untuk meneruskan doa-doa mereka. Ritual mengganti jubah ini selain sebagai acara puncak ulang tahun kongco juga mengawali rangkaian kegiatan kelenteng setelah kurang lebih dua puluh tahun, tidak mengadakan kegiatan besar. Setiap tahun, acara she jit dan cioko atau sembahyang rebutan, selalu ditunggu setiap warga baik betawi maupun tionghoa untuk berbagi kegembiraan. She jit sering kali bertepatan dengan masa pascapanen padi para petani tionghoa. Kepengurusan baru dalam kelenteng tanjung kait ini direalisasikan dalam kegiatan besar lain. Setelah warga dan umat kelenteng mengapresiasi ritual she jit kelenteng kembali ramai dengan diadakannya festival barongsai. Festival barongsai ini memeriahkan ulang tahun kongco co su kong yang ke 630. Sejak tahun 1965 perayaan besar yang berhubungan dengan penanggalan china hampir tidak pernah terjadi. Apalagi dengan suguhan atraksi barongsai seperti ini. Angin perubahan terjadi pada tahun 1998 ketika ritual adat dan kebiasaan warga tionghoa di mulai kembali semarak. Festival barongsai ini menjadi salah satu usaha besar pengurus kelenteng yang baru untuk menaikkan kembali pamor kelenteng co su kong yang selama dua puluhan tahun meredup. Umat kelenteng dan warga tangerang khususnya memaknai rangakaian shejit dan festival barongsai ini dengan kegembiraan serta pengharapanan barongsai telah hidup di daratanchina abad 3 sebelum masehi. Dan selama itu pula  tarian singa ini merupakan wujud lambang kesenangan dan kebahagiaan. Pertunjukkan barongsai pun dipercaya mendatangkan rejeki pada para pengunjung.

Taman Nasional Kayan Mentarang atau TNKM terbentang di sepanjang propinsi kalimantan timur berbatasan dengan wilayah dengara bagian sabah dan serawak malaysia. Letak kawasan TNKM terpencil di pedalaman dan akses masuk terbatas hanya pada angkutan udara dan perahu motor yang, menyusuri  sungai-sungai yang membelah rimba taman nasional. bahau hulu salah satu wilayah adat di tnkm, dapat ditempuh dari tarakan menggunakan pesawat jenis cesna.Taman nasional kayan mentarang berada di jantung Borneo. Heart Of Borneo / adalah gugusan hutan hujan tropis pegunungan yang masih tersisa di borneo. Setidaknya / terdapat 40 hingga 50 persen / jenis flora dan fauna endemik hidup di TNKM. Kawasan ini juga berfungsi sebagai menara air utama bagi seluruh pulau  kalimantan.Long Alango ibukota kecamatan Bahau Hulu menjadi tujuan pendaratan pesawat.Kayan Mentarang memiliki jenis ekologi hutan yang beragam dan  unik.beragam tipe habitat dari hutan hujan dataran rendah hingga dataran tinggi bisa ditemui di taman nasional kayan mentarang. Di seluruh kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang terdapat 10 wilayah adat  yang dihuni sekitar 16 ribu penduduk / yang mendiami 50 desa. 

Beberapa diantaranya telah berbaur menjadi lokasi pemukiman yang luas.

Perjalanan menyusur rimba kayan mentarang difokuskan di aliran sungai bahau yang sebagian besar masuk  wilayah adat bahau hulu. Di kecamatan bahau hulu terdapat 6 desa adat. Dari desa Long Alango perjalanan menyusur sungai bahau dilakukan dengan perahu ketinting menuju desa Long Berini. Karakter sungai Bahau adalah sungai yang terdapat batu-batu besar. Perahu ketinting harus melalui arus sungai yang banyak terdapat jeram batu.Mata pencaharian masyarakat desa long berini seperti halnya desa lain di bahau hulu adalah berladang diselingi dengan berburu satwa dan mengumpulkan tumbuhan untuk kebutuhan sehari-hari.kesenian dan kerajinan tangan yang dilakukan masyarakat long berini menjadi nilai lebih desa ini. Dan Udah misalnya, ia adalah penggiat seni yang terus menurunkan kesenian adat sekaligus tata cara dalam ritual budaya / kepada generasi penerusnya.Di mata Cristina Eghenter corak kehidupan masyarakat dayak kenyah  banyak terkandung kearifan lokal. Perjalanan berlanjut ke desa apau ping. Desa ini merupakan desa paling ujung dari wilayah adat bahau hulu. Perjalanan melawan arus sungai  dengan banyak jeram menjadi tantangan sendiri. Fenomena ini sekaligus menggambarkan bagaimana keseharian masyarakat yang tinggal di aliran sungai melakukan perjalanan  melalui sungai. Di padang long tua ini dulu menjadi tempat tinggal warga apauping. Warga Apauping akhirnya pindah ke tempat baru yang terletak lebih di bawah.Keramahan masyarakat dayak terpancar pada adat dan budaya  yang mengakar bersama alam dan lingkungan. Secara etnolinguistik / aneka ragam kelompok etnis bahasa, terdapat di Kayan Mentarang/ yang dikenal dengan bahasa dayak. Corak ukiran dan lukisan kalong kabok dan tarian repetitif menjadi ciri khas masyarakat  dayak. Perjalanan menyusur rimba kayan mentarang berakhir di apauping.Pperjalanan balik dimulai dari apauping menuju long pujungan / melalui sungai bahau.Perjalanan ini membutuhkan kurang laebih enam jam.Dari Long Pujungan perjalanan meninggalkan pedalaman kayan mentarang   dipilih tetap melalui sungai.Selain karena mengikuti arus sungai atau dalam bahasa lokal disebut milir perjalanan lewat sungai menjadi menarik karena dapat melihat keindahan hutan di jantung borneo.Perahu berukuran lebih besar atau Long Boat dapat digunakan untuk menyusur sungai Kayan. Dari Long ujungan / perjalanan melalui Long Bia / hingga tiba di Tanjung Selor.Dari Long Pujungan hingga Tanjung Selor perjalanan menyusur sungai ini membutuhkan waktu tidak kurang dari sepuluh jam. Sebuah perjalanan yang penuh tantangan, untuk melihat keanekaragaman hayati sekaligus merasakan adat budaya masyarakat dayak kenyah di Taman Nasional Kayan Mentarang.

Provinsi bengkulu terletak di bagian barat selatan pulau Sumatera.Provinsi yang mempunyai luas wilayah hampir 20 ribu kilmeter persegi ini mempunyai garis pantai  sepanjang 433 kilometer. Bengkulu dikenal dengan kesenian tradisional tabot, yang selanjutnya  menjadi ciri khas budaya Kota Bengkulu.Berbagai etnis tradisi telah lama mendiami bumi rafflesia ini seperti rejang Lombak,  Pasemah Melayu Enggano, Kaur serta Serawai.Masing-masing etnis memiliki seni tradisi yang sebagian masih eksis dan produktif namun beberapa jenis kesenian yang lain terancam punah.Di Kabupaten Seluma, 70 kilometer dari Kota Bengkulu, etnis Serawai mendiami  daerah sepanjang pesisir pantai bengkulu.Masyarakat di desa Masmambang, kecamatan  Talo, masuk dalam etnis serawai.Salah satu kesenian tradisional di desa Masmambang adalah rejung.

Beberapa tahun terakhir, seni rejung semakin jarang dibawakan.

Hanya tinggal generasi tua yang masih menguasai seni yang berusia tua ini.Salah satunya adalah Zubirman. Zubirman dan beberapa warga masmambang terus berusaha melestarikan seni tradisi yang telah mereka warisi.zubirman adalah seorang penjaga sebuah sekolah dasar di masmambang//Bertahun-tahun ia setia melakukan pekerjaan, yang baginya adalah sebuah amanah.Di lingkungan sosial, zubirman juga  sebagai salah satu anggota lembaga adat.Kegelisahaan  Zubirman dan para penggiat seni dan budaya lokal, adalah semakin ditinggalkannya seni merejung khususnya di kalangan generasi muda.Zubirman pun membuat sanggar untuk  mewadahi generasi muda berlatih rejung.Tujuan utamanya adalah mewariskan seni tradisional ini kepada generasi muda di bawahnya sebagai penerus.Zubirman seperti halnya warga masmambang lainnya yang corak kehidupannya agraris mengisi waktu luang dengan mengolah sepetak sawah miliknya.Dalam prakteknya, rejung mempunyai tata cara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan penghormatan.Inilah yang dilakukan Zubirman dan para penggiat rejung lainnya. Mereka tetap mempertahankan tata cara sesuai tradisi.Ketika akan mengadakan rejung pihak pengundang akan mengirimkan pinang sirih kepada tetua adat dan kepala desa beserta aparatur di bawahnya. Ritus ini mempunyai makna sebagai penghormatan sekaligus undangan pada warga di luar desa. Pentas rejung malam nanti diatur menurut tata cara sesuai adat. Ini dilakukan zubirman agar para penari dan perejung siap untuk pentas di tingkat yang lebih tinggi. Salah satu perejung perempuan yang diundang adalah  Muhibatu Saiyah atau dipanggil Muhar.Keseharian Muhar diisi dengan bekerja menganyam barang-barang dari bambu dan rotan. Warga yang fasih melantunkan rejung tinggal sedikit. Muhar termasuk di antaranya.Seperti halnya Zubirman harapan Muhar, agar generasi muda bisa menguasai rejung sangat tinggi.Bagi Muhar, rejung bukan sekedar budaya dari leluhur, tetapi juga meretaskan kenangan tersendiri. Dari sisi semangat dan ditinjau dari sejarahnya rejung lazimnya dilakukan kalangan muda. Karena belum ada kalangan muda yang bisa merejung maka Zubirman. Muhar,  para penari serta perejung generasi tua lah yang mebawakan tari adat dan rejung agar dapat dicontoh kalangan muda.Salah satu remaja anggota sanggar yang dibuat Zubirman dan para tetua adat adalah Ine Cintya. Baginya, merejung mempunyai sisi-sisi yang menarik. Persiapan mulai disiapkan untuk malam nanti. Zubirman dan para tetua sangat bangga dengan seni tradisi rejung.Apalagi ketika tahun lalu mereka memenangkan festival seni rakyat di provinsi Bengkulu.Pementasan tari adat dalam etnis serawai umumnya dilaksanakan untuk memeriahkan upacara pernikahan.Sebagai seni sastra lisan, rejung berisikan ungkapan rasa cinta, cemburu, dan ungkapan lain yang berkaitan dengan hubungan cinta kaum muda-mudi.Inilah yang menarik dari pentas rejung.Sebelum pementasan tari adat, tetua adat telah membentuk kepanitiaan yang akan bertanggung jawab penuh pada pelaksaanaan acara tersebut.Mereka yang dipilih tentu yang memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai adat istiadat yang berlaku di Desa Masmambang. Pementasan tari adat lazimnya dilakukan malam hari. Sebagai pembukaan tari adat ketua panitia terleih dulu meminta ijin kepada kepala desa dan ketua adat agar mereka mengetahui dan mengawasi jalannya pelaksanaan acara tersebut.Syarat dari kaum muda-mudi yang menari berpasangan, yaitu tidak boleh yang masih sedesa dan masih memiliki talian darah.Tarian adat dimulai.Gerak repetitif tarian adat ini, mengikuti tabuhan redap dan pukulan kulintang.Kedua jenis alat musik tersebut mutlak ada untuk mementaskan tari adat.Setelah gerakan kedua para perejung yang mewakili para penari melantunkan ungkapan-ungkapan.Perejung dari pihak laki-laki mengawali lontarkan untuk menyampaikan pesan kepada pihak penari perempuan.Setelah mendengar rejung wakil penari laki-laki wakil perempuan memikirkan Jawaban rejung tersebut lalu membalas rejung tersebut. Rejung ini mengisi waktu senggang dalam tarian adat. Ungkapan-ungkapan dilontarkan secara eksplisit dan dibawakan dengan sopan. Walaupun itu sebuah sindiran.Gerakan ketiga tarian adat kembali di bawakan. Tari adat diakhir dengan tari kipas.Demikian seterusnya tarian adat yang diselingi rejung tersebut dibawakan yang bisa berlangsung semalam suntuk, hingga menjelang subuh. Namun kali ini kepala desa menghentikan tarian sepasang muda-mudi.Ternyata pasangan tari tersebut masih ada pertalian darah. Begitulah rejung mengisi lembar-lembar seni tradisi di provinsi Bengkulu. Rejung yang di fungsikan sebagai sarana hiburan dan alat komunikasi  menjadi media yang santun dengan penghayatan yang dalam.

Sebuah refleksi kearifan yang tercermin dari bahasa dan lantunan  nada yang telah berusia tua.

 

  

 

  Borobudur… adalah sebuah monumen terbaik yang dilestarikan dan menjadi salah satu warisan budaya dunia.Munculnya hipotesis adanya danau purba hingga berdirinya candi borobudur menimbulkan kontrovesi di ranah akademis. Apakah memang benar ada danau yang luas ketika candi borobudur dan candi-candi di sekitarnya dibangun ?dan setelah abad 10 apakah  danau tersebut masih ada di sekitar wilayah kedu?apabila terdapat danau bagaimanakah perubahan lingkungan danau / hingga menjadi dataran?borobudur berada di daerah kedu selatan kabupaten magelang 95 kilo meter dari semarang dan 42 kilo meter dari jogjakarta. Lebih dari seribu tahun / peninggalan mahakarya manusia yang megah ini diselimuti kabut rahasia. Pada tahun 1584 keperkasaan borobudur pernah “goyah” akibat gempa bumi.  Semak-semak dan tumbuhan menutupi reruntuhan monumen yang terdiri dari dua juta balok batu / atau sekitar 55 ribu meter kubik batu Seorang seniman belanda Nieuwenkamp pertama kali mengemukakan hipotesisnya di tahun 1931 tentang danau borobudur. ia menggambarkan hubungan candi borobudur dengan danau di sekitarnya   menyerupai mahkota bunga teratai yang mengapung di tengah telaga. hipotesis yang terdengar fantastis tersebut mendapat tentangan para ahli. Salah satunya adalah Van Erp yang memimpin pemugaran candi borobudur  tahun 1907 hingga 1911. Kontroversi keberadaan danau masa lalu atau danau purba di sekitar candi borobudur, akhirnya menarik perhatian Helmy Murwanto. Dengan teknik dan pendekatan geologi helmy melakukan serangkaian penelitian  untuk membuktikan  keberadaan danau purba tersebut.  batuan serta lapisan pada singkapan tanah di aliran sungai elo ini / menjadi  bukti yang jelas//layer atau lapisan yang tersingkap secara kasat mata memperkuat hipotesa awal / tentang indikasi permukaan danau purba yang tertutup material lain. Singkapan batu lempung pasiran  juga ditemukan di lokasi lain yaitu di sepanjang lembah Sungai Sileng. Di lokasi tersebut batu pasiran tersingkap mengelilingi batuan yang jauh lebih tua umurnya yakni breksi andesit dari formasi andesit tua berumur oligo miosen. Fenomena lain adalah jejak berupa alur lembah sungai mati seperti di sungai pabelan purba. Alur sungai pabelan purba yang telah ditinggalkan aliran utamanya membentuk aliran sungai pabelan baru yang berjarak sekitar 500 meter. Jejak muara sungai purba yang berada di sekitar dataran borobudur  mengindikasikan bahwa aliran sungai-sungai purba berakhir di sekitar dataran borobudur.Penemuan dari singkapan-singkapan ini semakin meyakinkan  helmy dan tim untuk meneruskan penelitian geologi secara lebih mendalam guna membuktikan secara ilmiah tentang keberadaan danau purba di sekitar borobudur. 

 

Dari tinjauan geomorfologi yang dilakukan van bemmelen pada tahun 1949, zona fisiografi daerah borobudur terletak di zona sentral depresi.posisinya berada di antara jalur kubah kulon progo di sisi selatan, dan jalur gunung api kuarter di sisi utara. Berdasarkan tinjauan geologi,  cekungan borobudur dimulai dari proses tektonik di akhir jaman tersier, orogenesa atau proses pensesaran dan perlipatan, dari proses tektonik, mengakibatkan cekungan sedimentasi tersier kulon progo terlipat dan terangkat membentuk struktur kubah kulon progo. Penelitian dilanjutkan dengan pengeboran, untuk mengetahui variasi sedimen  struktur lapisan,  dan kedalaman danau masa lalu.Sekitar 2 hingga satu juta tahun lalu. 

 

Sesar tersebut membentuk tebing curam yang memanjang dari timur hingga barat sepangjang kurang lebih 15 kilometer  yang dikenal sebagai pegunungan menoreh. Menjelang berakhirnya orogenesa plio-plistosen di sebelah utara cekungan borobudur muncul kegiatan magmatik membentuk deretan gunung api tidar gunung merbabu dan gunung  merapi. Sejak itu cekungan borobudur secara berangsur-angsur mengalami perubahan lingkungan dari lingkungan laut menjadi danau. Titik pengeboran dilakukan di lima  lokasi.material yang di dapat dari hasil  pengeboran selanjutnya diteliti di laboratorium.dari hasil analisis di laboratorium beberapa sampel tanah dari daerah borobudur dan sekitarnya dikelompokkan menjadi dua. Pertama kelompok sampel tanah yang batuan induknya berasal dari batu lempung pasiran/ dan yang kedua kelompok sampel tanah yang batuan induknya berasal dari batuan vulkanik tersier / dan batuan vulkanik kuarter. Analisis polen juga dilakukan sebagai suatu cara untuk mengetahui kondisi lingkungan suatu tempat pada masa lalu. Hasil anaslis polen yang telah dikelompokkan diantaranya tipe polen tumbuhan berpohon dan tidak berpohon tipe polen tumbuhan aquatik dan tipe polen fungi. Indikasi adanya genangan luas di sekitar candi baorobudur juga dapat ditinjau secara toponim. Nama-nama desa atau daerah di sekitar candi borobudur banyak yang mempunyai arti atau makna sebagai air. Saat ini daerah tersebut telah berubah menjadi lahan pertanian dan perkampungan karena kandungan airnya yang melimpah. Helmy sependapat dengan hipotesa Nieuwenkamp yang mengilustrasikan candi borobudur dibangun di tengah telaga … Melambangkan sebuah bunga teratai di atas air. Singkapan batu lempung hitam yang diteliti di beberapa lokasi memberi kesan danau borobudur dahulu sangat luas. Penelitian yang dilakukan helmy dan timnya, sampai pada kesimpulan danau atau rawa-rawa di sekitar borobudur sudah ada sejak lebih dari 22 ribu tahun yang lalu. perkembangan luasan danau serta paleogeografi daerah sekitar candi borobudur  sangat dipengaruhi  oleh endapan hasil aktivitas gunung gunung merbabu gunung sumbing merapi dan pegunungan menoreh. adanya rembesan air asin pada rekahan batu lanau menunjukkan bahwa sebelum terbentuk lingkungan danau  daerah di sekitar candi borobudur  pernah terbentuk lingkungan laut. bahwa borobudur mungkin memang di bangun dengan konsep yang sangat matang.memadukan teknik arsitektur sekaligus tetap berpatokan pada filosofi kepercayaan…Menciptakan sebuah bangunan sebagai teratai suci yang berada di danau…   

   

snorkling in atambua

Posted: 08/08/2007 in Foto

snorkling di atambua sama mayor andi dari kapal perang KRI Makassar, di pelayaran kebangsaan 7

disambut warga apauping

Posted: 08/07/2007 in Foto

iwg_9256.jpg perpisahan

disambut di apupingnyalamin warga sekampung

“Berebut Gunung Marmer”

Posted: 07/06/2007 in Jurnal

 Daratan timor di provinsi nusa tenggara timur terdiri dari satuan fisiografi berupa pegunungan yang tersusun berbagai jenis batuan. Fatu yang berarti batu atau gunung secara adat juga mempunyai akar filosofi yang kuat.Namun dari gunung batu ini masalah muncul.Dari sisi sumber daya alam batu tersebut dapat dieksploitasi sebagai sumber pendapatan daerah.Batu marmer diproyeksikan pemerintah daerah dapat meningkatkan pendapatan asli daerah.Namun dari sisi adat penolakan warga secara sporadis muncul.Bahkan konflik horisontal telah terjadi akibat kisruh penambangan marmer.Seperti apakah konflik yang timbul karena eksplorasi tambang marmer ini? Apakah tarik ulur  masalah tambang marmer ini, masih akan terus terjadi?Ikuti penulusuran metro realitas di daratan timor. Kasus tambang marmer di kabupaten timor tengah selatan Soe telah berlangsung hampir setahun lalu.Masyarakat adat desa kuanoel menolak rencana pt teja sekawan melakukan penambangan batu marmer di faut lik dan fatu ob di kecamatan fatumnasi agustus  2006 lalu. Ketika itu aleta baun mengawali aksi penolakan eksploitasi marmer di kawasan mollo. Kaum perempuan pun akhirnya yang lebih dominan menuntut dicabutnya ijin tambang. Peristiwa serupa juga terjadi di desa tetangga/ di pegunungan naetapan desa tunua.Yang terakhir pada maret 2006, ketika konflik juga terjadi antara masyarakat dengan pt sumber alam marmer, yang mendapat ijin dari bupati pada maret 2006. Beberapa bulan berlalu.Suasana yang tenang saat ini bukan berarti tidak ada masalah di desa tersebut.Menurut warga di sekitar tambang aktivitas penambangan dalam beberapa hari ini berhenti karena mesin dan ekskavator rusak.tumpukan balok-balok batu marmer teronggok begitu saja.dari mendapatkan bongkahan balok ini dapat dibayangkan seberapa gunung yang dipotong. Rencana penambangan marmer masih menjadi momok bagi warga desa.hal ini dikarenakan hingga saat ini konflik antara masyarakat dan pemda serta pengusaha sebagai investor masih belum selesai. Bagi warga kuanoel dan fatumnasi gunung batu mempunyai makna yang dalam baik dalam filosofi adat maupun untuk kebutuhan religi. Dalam masyarakat adat di kabupaten timor tengah selatan masih terdapat struktur adat yang kuat.Amaf atau tokoh adat mempunyai peran serta otoritas yang kuat dalam menentukan aturan adat. Dalam menjalankan tugasnya amaf dibantu para usif yang berperan sebagai  elemen yudikasi.Proses dimulainya penambangan ini pun masuk melalui para amaf serta tetua adat. Sebagai batuan yang secara fisik terlihat mewah pada kenyataannya marmer hanyalah salah satu bahan galian yang masuk golongan c.Ini berarti marmer dapat disamakan sama dengan bahan galian pasir dan batuan kerikil. Menurut undang-undang nomor 11 tahun 1961 pemanfaatan tambang diatur oleh negara untuk kemakmuran rakyat.Pemerintah daerah pun mengeluarkan perda yang memayungi usaha penambangan marmer. Sikap bupati yang masih belum mencabut ijin penambangan membuat  warga  yang tinggal di kawasan pegunungan  resah. Pada perkembangannya penambangan marmer di deretan pegunungan di daerah mollo perlahan menjadi   konflik horisontal .Warga yang tinggal di sekitar pegunungan mayoritas menentang eksploitasi marmer. Warga yang vokal dan kritis  dalam menolak penambangan mengaku mendapat tekanan dan ancaman.Beberapa warga bahkan mengalami tindak kekerasan.Hal yang sama di rasakan Aleta Ba’un.Aleta yang sering dipanggil mak leta terus berpindah-pindah tempat  meninggalkan keluarganya.Hal ini dilakukannya karena tekanan yang dialaminya dan untuk menghindari teror. Pembenaran dibukanya penambangan marmer tentu karena ada analisis mengenai dampak lingkungan atau amdal. Hasil dari amdal inilah yang mengesahkan keluarnya surat ijin penambangan daerah.saat ini meskipun beberapa perusahaan tambang untuk sementara menghentikan produksinya namun para pengusaha tetap mengantongi sip d tersebut. Ijin penambangan marmer bagi sebagian kalangan tidak logis mengingat gunung batu memiliki fungsi hidrologi yang sangat vital sebagai resapan air.Hilangnya gunung batu menyebabkan krisis air bagi warga setempat dan resiko tanah longsor. Tarik ulur penambangan batu marmer  menjadi rumit karena masuk ke ranah adat.batu permasalahan di timor tengah selatan sebenarnya juga terjadi di kabupaten lain seperti di timor tengah utara kefamenanu. di daerah niap-niap juga terdapat penambangan batu marmer.Tambang batu di niap-niap ini secara adminstrasi masuk desa teba dan sebagian lokasinya masuk wilayah desa oerinbesi.Kedua desa tersebut merupakan bagian kesatuan adat kekaisaran Biboki PT timor marmer industri  mulai beroperasi sejak tahun 2004 lalu di dua desa  yang masuk kecamatan biboki selatan.aktivitas penambangan berjalan lancar tanpa ada tekanan atau tuntutan dari warga sekitar. Secara prosedural hasil produksi marmer yang akan dikirim keluar lokasi selalu di periksa baik warga sekitar serta dinas pertambangan. Walaupun di atas kertas sistem yang diterapkan pemerintah terkesan ketat dalam mengontrol aktivitas penambangan hingga pendistribusiannya toh masyarakat lokal tetap pada posisi pihak yang awam.Aksesibilitas mereka terbatas.Daya tawar mereka pun lemah. Apa yang dikhawatirkan dari penambangan gunung marmer adalah konflik antara masyarakat adat  atau warga lokal dengan pihak pemerintah serta pengusaha. Permasalahan tanah ulayat atau tanah adat sepertinya belum sepenuhnya selesaiKarakteristik warga lokal terkesan lebih menerima kebijakan atau perubahan yang terjadi di wilayah mereka. Namun ternyata mereka masih menanti janji dari pemerintah daerah  dan pengusaha tambang. Kenyataannya kehadiran tambang tersebut mengakibatkan suatu pengorbanan adat yang tidak kecil.Lokasi ritus warga  di beberapa titik lokasi di gunung-gunung batu tersebut terpaksa di pindah ke tempat lain. Penambangan batu marmer juga hampir terjadi di atambua.perbukitan lidak adalah kawasan yang meliputi kecamatan kota kecamatan tasbar dan kecamatan kakuluk mesak.Pada agustus 2006 lalu PT sipon multi aktif mengklaim memiliki hak mengeksploitasi marmer di lidak yang terbentang di kawasan seluas 9000 hektar. Namun oleh masyarakat setempat bukit-bukit batu lidak merupakan tempat melaksanakan sembahyang dan upacara adat.khususnya upacara meminta hujan. Melihat fenomena kerusakan lingkungan dan masyarakat yang mengadu pihak keuskupan belu pun tidak tinggal diam. 

Deretan perbukitan dan pegunungan batu di daratan timor dari atambua hingga soe merupakan kawasan dimana interaksi dan kebutuhan adat masih sangat kuat.

 Kebijakan pemerintah setempat yang membawa jargon meningkatkan taraf hidup warga  dan pendapatan daerah dengan mengeksploitasi gunung marmer tampaknya akan melalui jalan panjang dan berliku. Hambatan terbesar adalah resistensi masyarakat yang masih kuat memegang adat dan menggantungkannya di gunung-gunung batu tersebut. Eksploitasi tambang khususnya batu mamer di daratan timor akan selalu berhadapan dengan kepentingan adat.Pemaksaan beroperasinya tambang marmer hanya akan melahirkan konflik sosial berkepanjangan yang beresiko pada kelematan rakyat. fakta lebih mendalam adalah  lingkungan dan ekosistem yang terganggu akibat perubahan drastis dari hilangnya wilayah tangkapan air. 

Kekarnya gunung-gunung batu yang memayungi daerah-daerah rendah dan mengalirinya dengan air kehidupan  tidak dapat dikompensasikan dengan janji dan jargon peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran.

 Nara sumber: ALETA BA’UN (ORGANISASI ATAIMAMUS) MGR. ANTON PAIN RATU, SVD (USKUP BELU) VIKTOR MANBAIT (KOORDINATOR LAKMAS) YOSEP LALUS (PEMANGKU ADAT OERINBESI )ANWAR SULAIMAN (GM PT. TMI)LODOVIKUS SILLA (KEPALA DINAS PERTAMBANGAN TTU) DANIEL BANUNAEK (BUPATI SOE) LERY MBOUIK (KOORDINATOR PIAR) YAKOBUS OEMATAN (TETUA ADAT)

menyusur sungai bahau hulu

Posted: 08/03/2007 in Foto

milir dengan ketinting di bahau hulusungai hulu bahau banyak rintangan jeram yang menantang.